MAKASSARTA'

Pasang Surut Bisnis Thrift Store di Kota Makassar

Published

on

Makassar, Caption.id – Pada awal kemunculannya, diiringi kontoversi karena terkait legalitas dan issue kebersihan, namun thrifting seolah menjadi trend belanja di  kalangan anak muda. Mulai dari pakaian, tas, sepatu hingga aksesoris seperti jam tangan. Membeli barang original yang bekas atau barang tiruan (kw), adalah dua pilihan yang mempengaruhi perilaku konsumen yang ingin merasakan pengalaman memiliki barang branded. Selain harga yang lebih terjangkau, thrift store menjadi surga bagi pecinta gaya vintage yang autentik dari masanya.

Kota Makassar diramaikan oleh beberapa titik thrift store, baik yang berada di pasar tradisional maupun store yang dikemas lebih modern. Thrifting store saat ini  juga bisa beradaptasi dengan era digital, dengan memasarkannya secara online. Sebagai trend, thrifting mengalami pasang surut, namun tetap dianggap sebagai peluang bisnis bagi beberapa pengusaha mengingat mudahnya memperoleh pasokan barang. Berikut  3 garis waktu trend thrift store di kalangan anak muda Makassar.

1. Mulai menginvasi kota Makassar di sekitar  tahun 2000an

Masih ingat ga kamu generasi Y, kawasan thrift store di Jalan Topaz. Adanya kawasan ini menjadi cikal bakal berkembangangnya thrifting di Makassar. Walaupun akhirnya ditutup,kawasan tersebut kemudian bergeser ke sekitar pasar Toddopuli. Pada saat itu, thrifting mencapai masa keemasannya, karena belum banyak pilihan akan toko retail dan dapat menyasar semua kalangan dan usia.

2. Event yang menciptakan pengalaman berbelanja thrifting tahun 2015

Terkadang kesan rapi dan nyaman, bukan hal yang utama saat membeli barang – barang thrift. Namun sekitar tahun 2015, beberapa event anak muda di kota Makassar seperti Gullysale, Popcycle, MCR mengkolaborasikan konsep kuliner, musik dan berbelanja barang – barang terkangkau termasuk thrifting. Tentunya event ini sukses mempertemukan anak muda yang gemar barang – barang vintage dengan harga yang terjangkau dengan suasana yang lebih menarik, nyaman dan gaul.

3. Era digital : saatnya thrifting secara online dan mengkampanyekan suistanable fashion.

Era digital menyentuh semua lini kehidupan, tidak terkecuali thrift store. Banyak pelaku usaha thrifting menjual barangnya secara online. Bahkan ada beberapa ecommerce yang khusus menjual barang preloved dari selebrity seperti tinkerlust. Kemudahan berbelanja secara online tentu akan membangkitkan kembali trend ini dan mengingatkan kembali akan pentingnya “keberlanjutan fashion” dengan memperlambat sumbangsih limbah tekstil karena perkembangan fashion yang begitu cepat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version